Game-Game Terbaru 2024 Dilarang Masuk ke Indonesia, Apa Sebabnya?

NGOPITEKNO – Game merupakan salah satu bentuk hiburan yang populer di kalangan masyarakat, termasuk di Indonesia. Namun, tidak semua game dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, terutama yang mengandung konten yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama.

Pemerintah Indonesia telah melarang peredaran beberapa game yang dianggap mengandung konten negatif, seperti kekerasan, seksualitas, dan narkoba. Pada tahun 2024, terdapat dua game terbaru yang dilarang masuk ke Indonesia, yaitu:

  • Call of Duty: Modern Warfare 2
  • Saints Row

Kedua game tersebut dilarang masuk ke Indonesia karena mengandung konten kekerasan yang berlebihan, termasuk penggambaran pembunuhan, mutilasi, dan penggambaran wanita yang seksis.

1. Call of Duty: Modern Warfare 2

game first-person shooter yang dikembangkan oleh Infinity Ward dan diterbitkan oleh Activision. Game ini dirilis pada tanggal 28 Oktober 2022 untuk platform PlayStation 5, Xbox Series X/S, dan Microsoft Windows.

Game ini mendapat kritikan karena mengandung konten kekerasan yang berlebihan, termasuk penggambaran pembunuhan, mutilasi, dan penggambaran wanita yang seksis.

Salah satu contoh konten kekerasan yang dikritik adalah misi “No Russian”, di mana pemain berperan sebagai teroris yang melakukan penembakan massal di bandara. Misi ini dianggap terlalu brutal dan tidak pantas untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja.

Selain itu, game ini juga dianggap mengandung penggambaran wanita yang seksis. Salah satu contohnya adalah karakter Mara, yang digambarkan dengan pakaian yang minim dan pose yang menggoda.

2. Saints Row

game action-adventure yang dikembangkan oleh Volition dan diterbitkan oleh Deep Silver. Game ini dirilis pada tanggal 23 Agustus 2022 untuk platform PlayStation 5, Xbox Series X/S, dan Microsoft Windows.

Game ini mendapat kritikan karena mengandung konten kekerasan, seksualitas, dan narkoba yang dianggap tidak pantas untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja.

Salah satu contoh konten kekerasan yang dikritik adalah misi “Smackdown”, di mana pemain berperan sebagai gengster yang menyerang sekelompok orang dengan senjata tajam. Misi ini dianggap terlalu brutal dan dapat memicu tindak kekerasan di dunia nyata.

Selain itu, game ini juga dianggap mengandung konten seksualitas yang eksplisit. Salah satu contohnya adalah misi “Sex Toy Store”, di mana pemain dapat menjelajahi toko mainan seks.

Konten narkoba juga menjadi salah satu kritikan terhadap game ini. Salah satu contohnya adalah misi “Drug Lab”, di mana pemain dapat memproduksi narkoba.

Pelarangan Game: Antara Perlindungan dan Hak

Pelarangan peredaran game-game yang mengandung konten negatif merupakan upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, dari pengaruh konten-konten tersebut. Konten kekerasan dapat mendorong anak-anak dan remaja untuk melakukan tindak kekerasan di dunia nyata. Konten seksualitas dapat merusak moral dan perkembangan anak-anak dan remaja. Konten narkoba dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan anak-anak dan remaja.

Namun, pelarangan peredaran game juga menimbulkan polemik. Beberapa pihak berpendapat bahwa pelarangan tersebut merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia, karena membatasi kebebasan individu untuk mengekspresikan diri.

Keterbatasan Regulasi

Regulasi yang mengatur peredaran game di Indonesia masih belum memadai. Regulasi yang ada saat ini, yaitu Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 11 Tahun 2016 tentang Klasifikasi Permainan Interaktif, masih bersifat umum dan tidak spesifik. Peraturan tersebut hanya mengatur klasifikasi game berdasarkan usia, yaitu untuk anak-anak, remaja, dan dewasa.

Regulasi yang lebih spesifik diperlukan untuk mengatur konten game yang dilarang beredar di Indonesia. Regulasi tersebut harus mempertimbangkan aspek perlindungan anak, moral, dan keamanan masyarakat.

Peningkatan Kesadaran Masyarakat

Selain regulasi yang memadai, diperlukan juga peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya konten negatif dalam game. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memberikan edukasi kepada anak-anak dan remaja tentang bahaya konten negatif dalam game.

Edukasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti sosialisasi, kampanye, dan program-program pendidikan.

Dengan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan anak-anak dan remaja dapat lebih bijak dalam memilih dan memainkan game. Mereka dapat memilih game yang sesuai dengan usia dan minat mereka, serta menghindari game yang mengandung konten negatif.

Pelarangan peredaran game-game yang mengandung konten negatif merupakan upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja. Namun, pelarangan tersebut juga menimbulkan polemik karena dianggap sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Regulasi yang mengatur peredaran game di Indonesia masih belum memadai. Regulasi yang lebih spesifik diperlukan untuk mengatur konten game yang dilarang beredar di Indonesia. Selain regulasi yang memadai, diperlukan juga peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya konten negatif dalam game.

Komentar